Tahun Baru Negeri di Atas Awan Sindoro

Tahun baru, momen yang dianggap oleh sebagian banyak orang. Menikmatinya dengan keluarga di mall besar, alun-alun, tugu, atau pusat keramaian lain yang berkesan. Merasakan indahnya malam bersama pacar, menikmati detik-detik pergantian tahun. Jutaan kembang api merangsak ke atas menghiasi langit.
Terkecuali kami, 4 orang pemuda yang berusaha berlari dari keramaian, Mulyanto, Wahyu, Soffa, Yuriska. Menyendiri di tengah hutan, berteman malam dan petang, merasakan hawa dingin di atas indahnya awan. Walau sekarang banyak orang tak bertanggung jawab mengotori alam, tapi kami bukanlah mereka yang hanya mengexplore keindahan tanpa memperhatikan kebersihan.
Rasa sakit kami tahan, sampai kami bertemu seorang kawan. Om Kunto, begitu kami memanggilnya. Seorang yang menyatu dengan alam Sindoro, bertempat tinggal di kecamatan Kledung. Dipersilahkanlah kami bersama rombongannya, menikmati hangatnya secangkir kopi dalam genggaman tangan yang dingin. Sebagian beristirahat beratapkan langit beralaskan matras, dan sebagian di dalam hangatnya tenda. 
Fajar tiba, kami terbangun satu persatu, bercanda ria menikmati kehangatan persahabatan. Kami ambil debu untuk bertayammum, kemudian bersujud menghadap Robbi, meminta pertolongan agar dimudahkan jalan pendakian. Sholat shubuh berjamaah di tengah hutan. Nikmat rasanya bisa melakukannya bersama kawan seperjuangan. 
Matahari semakin tinggi, tepat jam 7 pendakian dilanjutkan. Kiri kanan pohon dan bebatuan serta jurang. Pos 3 terlihat, bahagia mulai terasa. Setengah perjalanan telah terlaksana. Sayang, tak ada tempat mendirikan tenda. Berlanjut ke atas mencari peruntungan. Sejenakt mata terpejam, sedikit demi sedikit Sang Merah Putih terlihat. Camp area baru memberikan kami kesempatan untuk beristirahat. Camp area yang tidak sengaja dibuat, ada karena berkah kebakaran Sindoro beberapa waktu lalu. Karena Allah memang tak pernah memberikan sesuatu tanpa hikmah.
Tenda kami dirikan, beristirahat, sejenak merenung betapa indahnya alam jika tak dikotori tangan-tangan biadab dan tak bertanggungjawab. Foto demi foto kami ambil untuk mengabadikan momen yang tak terlupakan. Sampai malam datang. Kami tertidur pulas hingga fajar datang. Dua di antara kami melanjutkan pendakian dan sisanya tetap di tenda, menjaga barang. Yang terpenting, bukan puncak yang jadi tujuan, tapi hati yang tulus yang harus tetap terjaga keimanannya. 
Sekian.





Posting Komentar

0 Komentar